Label:

Agama Budha Niciren Daisyonin


Agama Buddha didirikan oleh Buddha Sakyamuni di India pada sekitar tahun 999 SM. Sakyamuni artinya orang arif bijaksana dari suku Sakya. Beliau terlahir sebagai Pangeran Sidharta Gautama, putra Raja Sudhodana dari kerajaan Kapilavastu di kaki Gunung Himalaya.

Sejak muda Pangeran Sidharta resah memikirkan keadaan masyarakat di luar tembok istananya. Pada suatu kesempatan ke luar dari istana, beliau melihat kondisi riil rakyatnya, misalnya orang yang tua renta, sakit, meninggal dan juga seorang pandita. Setelah melihat fenomena tersebut, Pangeran Sidharta memikirkan cara untuk mengatasi penderitaan umat manusia.

Agama Buddha Aliran Niciren Syosyu

Sebelum tersebar ke Jepang, Agama Buddha terlebih dulu tersebar luas di semenanjung Korea dan daratan Cina. Di Cina, Mahaguru Tien Tai menyebarluaskan Saddharmapundarika-sutra. Dalam bahasa Cina Saddharmapundarika-sutra disebut Miao Hua Lien Hwa Cing dan dalam bahasa Jepang dibaca Myohorengekyo. Sutra Saddharmapundarika adalah ajaran Buddha Sakyamuni mazhab Mahayana. Dari Cina, Myohorengekyo atau Saddharmapundarika-sutra lalu disebarkan ke Jepang oleh Mahaguru Dengyo.

Aliran Niciren Syosyu didirikan di Jepang oleh Buddha Niciren Daisyonin berdasarkan Saddharmapundarika-sutra. Niciren Daisyonin menandai lahirnya aliran ini dengan penyebutan mantera agung Nammyohorengekyo untuk pertama kali pada 28 April 1253. Nammyohorengekyo terdiri dari kata Namu (bahasa Sanskerta ‘Namas’ yang berarti memasrahkan jiwa raga) dan Myohorengekyo.

Buddha Niciren Daisyonin terlahir dengan nama Zennichi Maro pada tanggal 16 Pebruari 1222 di desa kecil Kominato Propinsi Awa (sekarang daerah Ciba) Jepang. Sejak usia 12 tahun Zennichi Maro masuk ke kuil untuk menjadi bhiksu. Pada usia 16 tahun dia ditahbiskan menjadi bhiksu dengan nama Zesho-bo Renco.

Setelah lebih dari 20 tahun mempelajari berbagai sutra dari sekte-sekte di berbagai kuil, maka Bhiksu Renco mendapatkan kesadaran bahwa Saddharmapundarika-sutra adalah Ajaran Buddha Sakyamuni yang bisa menyelamatkan umat manusia dari berbagai penderitaan hidupnya. Sejak itu Bhiksu Renco disebut Niciren Daisyonin.

Dinamika Agama Buddha Niciren Syosyu di Indonesia

Agama Buddha Niciren Syosyu pertama-tama masuk ke Indonesia pada tahun 1950-an. Tahun 1964 dibentuk wadah bagi umat Niciren Syosyu di Indonesia yaitu NSI (Niciren Syosyu Indonesia). Organisasi umat Buddha Niciren Syosyu Indonesia pertama-tama berupa yayasan yaitu Yayasan Buddhist Niciren Syosyu.

Berkembang mula-mula di Jakarta. Sejak kepemimpinan Senosoenoto, agama Buddha Niciren Syosyu berkembang luas hingga ke desa-desa. Hingga tahun 2012 ini umatnya telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Senosoenoto juga ikut mempelopori berdirinya wadah umat Buddha di Indonesia, WALUBI. Beliau menjadi Sekretaris Jenderal WALUBI pada tahun 1977 (saat itu masih bernama MABI ; Majelis Agama Buddha Indonesia) dengan Ketua Umum Brigjen TNI (purn) Soemantri.

Sepeninggalan almarhum Senosoenoto, umat Buddha Niciren Syosyu di Indonesia berada dalam wadah tunggal Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (YPSBDI), yang diketuai oleh Pandita Aiko Senosoenoto.

Agama Buddha Niciren Syosyu Dan Cinta Tanah Air

Senosoenoto selalu mendengungkan ajaran cinta Tanah Air dari Buddha Niciren Daisyonin kepada umatnya. Prinsip Menjadi Mata, Tiang dan Bahtera Bangsa benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Umat didorong untuk bisa berbahasa Indonesia. Aksi-aksi kemanusiaan seperti donor darah, menjadi calon donor mata, kebersihan lingkungan, reboisasi dan penghijauan, penanggulangan banjir dan menolong korban berbagai bencana lainnya juga dilakukan oleh umat Niciren Syosyu Indonesia. Sebagai wujud dari cinta Tanah Air itu, umat terus didorong untuk bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat dalam membangun daerah sekitarnya. Selain itu, umat juga giat melakukan berbagai kegiatan seni budaya Indonesia dari angklung, marching band, tari daerah, teater, musik, hingga tari kontemporer.

Hingga sekarang, gerakan cinta Tanah Air umat Buddha Niciren Syosyu di Indonesia secara konsisten dijaga dan dikembangkan penerapannya sesuai jaman oleh Pandita Aiko Senosoenoto dan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia.

Pembinaan Generasi Muda yang berkesinambungan

Pembinaan generasi muda sebagai penerus masa depan bangsa menjadi concern dari Pandita Aiko Senosoenoto. Di bawah kepemimpinannya, dinamika anak muda BDI mendapat tempat yang sangat pantas. Sejak tahun 1986, berbagai kegiatan nasional anak muda yang terarah dan terpadu dijalankan secara berkesinambungan dan terus menerus.

Diawali dengan Temu Pelajar dan Mahasiswa (TPM) pertama di Sumatera Utara hingga TPM ketujuh di Megamendung. TPM ini dilaksanakan setiap tahun secara rutin di berbagai tempat di Tanah Air. Selain Sumatera Utara dan Megamendung - Jawa Barat, Bromo - Jawa Timur, Bedugul – Bali, Yogyakarta, Tanjung Pinang – Kepulauan Riau juga pernah menjadi tuan rumah TPM.

Pelaksanaan kegiatan di berbagai tempat di Indonesia juga bertujuan untuk meletakan dasar cinta Tanah Air di dalam jiwa setiap generasi muda BDI. Dengan mengenal kebesaran dan keberagaman Indonesia, diharapkan akan muncul perasaan cinta terhadap Tanah Air mereka.Pembinaan generasi muda tahap kedua adalah (Pendidikan Agama dan Susila Teruna Indonesia (PASTI). Pembinaan tahap kedua ini juga dilangsungkan setiap tahun tanpa terhenti di kompleks Sadapaributha Buddhis Centre, Megamendung. Dari PASTI pertama hingga ketujuh, anak muda BDI dilatih untuk memiliki sikap berkompetisi secara sportif dan fair.

Memasuki tahap tujuh tahunan yang ketiga, diselenggarakanlah Menggapai Inspirasi Merdeka Putra Indonesia (MIMPI). Kegiatan ini menekankan pada pengembangan sikap disiplin, tekun dan mau belajar pada anak-anak muda. Berbagai pelatihan dan workshop diberikan kepada mereka dalam kegiatan yang dipusatkan di kompleks Kuil Myogan-ji, Megamendung ini. Mulai dari kelas tari, musik, hingga teater menjadi sarana mereka untuk menempa diri menjadi anak muda Indonesia yang tangguh.

0 komentar:

Poskan Komentar